Allah membalik vonis dokter
Bagaimana dahsyatnya kekuatan doa dan shalat? Tanyakan pada penyanyi Ita Purnamasari. Istri dari musisi Dwiki Dharmawan ini akan bertutur panjang hebatnya kekuatan doa dan shalat. Penyanyi yang lebih dikenal sebagai rocker wanita ini, kini dalam setiap aktivitasnya tak akan bisa lepas dari doa dan shalat.
Ceritanya bermula ketika ia dan sang suami berbulan madu kedua di Australia Maret 1997 silam. Ita yang dinikahi Dwiki 23 Oktober 1995, sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun “kosong”, Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan. Untuk itu keduanya jalan-jalan ke Australia.
Alih-alih menikmati pesiar berdua, Ita justru mengalami diare hebat, akibat salah makan. Tiga hari ia terbaring di negeri kanguru itu. Jadwal jalan-jalan dibatalkan dan mereka kembali ke Tanah Air.
Ia meneruskan berobat di Jakarta. Dokter menvonisnya terkena radang usus. Namun hasil pencitraan ultrasonografi (USG) menunjukkan hasil yang berbeda. Ditemukan massa berukuran 5 X 6 cm di dalam hatinya. “Daging itu harus segera diambil. Itu semacam tumor atau bahkan kanker,” ujar Ita menirukan sang dokter.
Perempuan kelahiran Surabaya 15 Juli 1967 ini panik. Ia jarang sakit. Dihadapkan ke meja operasi membuatnya sangat tersiksa. Ia meminta deteksi yang lebih canggih lagi, CT scan. Hasilnya, memang lebih akurat: tumor itu besarnya melebihi perkiraan USG!
Untuk menenangkan diri, Itu memilih pulang ke Surabaya agar bisa dekat dengan sang ibu Hj Diah dan ayah H Soekarmeni. Kebetulan sejak menikah, ia jarang pulang ke Surabaya.
Di kota kelahirannya itu, ia diantar orang tuanya menemui dokter yang pernah menangani abses di livernya ketika remaja dulu. Massa di hatinya itu tepat berada di bekas absesnya. Sang dokter pun merujuknya ke koleganya di sebuah rumah sakit besar di Singapura.
Berangkatlah Ita dan suaminya ke negeri jiran itu. Mereka bahkan menyewa flat untuk tinggal, karena pengobatan diperkirakan memakan waktu.
Sebelum dioperasi, dokter di Singapura menyarankan untuk menjalani pencitraan MRI (magnetic resonance imaging scan). Ia diwajibkan berpuasa mulai pukul 21.00 waktu setempat. Malam itu pula Dwiki mengajaknya shalat dan berdoa kepada Allah. “saya sambil menagis berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk, minta disembuhkan. Saya berdoa jangan sampai kena penyakit yang membahayakan,” kisah Ita.
Untuk menjalani tes, prosedurnya sangat rumit. Ia harus menandatangani surat yang menyebutkan tidak dalam keadaan hamil, karena kalau hamil pihak rumah sakit tak akan bertanggung jawab. Yakin tidak sedang hamil, ia pun teken. Namun hasil tes urin berkata sebaliknya: ia hamil.
Giliran dokternya yang kelabakan. Usia kehamilannya sudah lima pekan. Kalau pengobatan diteruskan, artinya Ita harus merelakan janinnya diaborsi. Ita disuruh membuat pilihan.
Ia meminta operasi ditunda. Shalat istikharah pun dilakukannya. ”Malam itu saya shalat dalam keadaan lelah jiwa dan raga,” lanjutnya. Dwiki selalu menberikan semangat padanya.
Pagi hari putusan itu diambil. Mereka sepakat untuk pulang ke Jakarta. Hari-hari Ita dihabiskannya di atas sajadah. Di suai kehamilannya yang kedua bulan, ia memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang sama di Singapura. Hasilnya, janinnya sehat.
Ia sejenak melupakan penyakitnya, dan berkonsentrasi pada kandungannya. Sembilan bulan kemudian, tepatnya tanggal 4 Desember 1997, buah hatinya, Fernanda, dikeluarkan melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa. Ia dan Dwiki tak henti-hentinya mengucap syukur.
Dua bulan setelah melahirkan, ia kembali mendatangi dokter livernya. Deteksi dilakukan lagi. Ia pasrah dengan apapun hasil USG dan CT scan yang dilakukan berturut-turut.
Namun Allah berkehendak lain. Massa di dalam hatinya yang tadinya besar itu telah mengecil dan kering. Pemeriksaan lain menunjukkan, massa itu hanyalah bekas asbesnya dulu yang membekas dan tampak seperti daging ketika dilakukan scanning.
”Jadi, dokter itu memastikan bahwa daging itu bekas luka lever abses tahun 1994 yang sudah sembuh tapi masih meninggalkan bekas. Dia sewaktu-waktu bisa kumat kalau saya makannya sembarangan,” ujarnya. Ita meyakini, kuasa Allah lah yang membuat semuanya berbalik. “Itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami sekeluarga. Jangan pernah lepas dari shalat dan doa. Jangan pernah jauh dari Allah,” ujarnya.
Sumber: Republika
Ita Purnamasari Siapkan Album Religi
Jakarta (ANTARA News) - Lama tak terdengar kabarnya, penyanyi aliran musik rock asal Surabaya, Ita Purnamasari, mengaku sedang menyiapkan album religi yang bakal diluncurkan Agustus 2007.
“Sekarang memang masih proses, dalam waktu dekat semoga sudah selesai karena tinggal satu lagu lagi yang dikerjakan,” ujarnya, di Jakarta, baru-baru ini.
Penggarapan lagu-lagu bersuasana Islami itu, menurut Ita, dikerjakan sejak lama bersama suaminya yang juga musisi, Dwiki Dharmawan.
“Kebetulan kami mempunyai banyak sekali lagu-lagu religius yang belum sempat diproduksi dalam bentuk CD. Semua yang membuat mas Dwiki dan sudah dipilih sekitar delapan lagu ditambah dua lagu baru,” katanya.
Ita mengungkapkan, lima tahun terakhir dirinya memang tidak mengeluarkan album baru, namun tetap aktif menerima “job” menyanyi di berbagai daerah.
“Kalau album religi, maka ini yang pertama kali, tapi kalau secara keseluruhan album ini adalah yang ke-13,” ujar ibu satu anak itu.
Ita mengatakan, dalam album yang didampingi Dwiki selaku “music director” dan “produser”-nya itu ada satu lagu yang pernah dinyanyikannya bersama Novia Kolopaking berjudul “Dengan Menyebut Nama Allah”.
“Saya berharap lagu itu nantinya dapat mengena dan diterima di hati masyarakat,” demikian Ita. (*)
Ita Purnamasari Akan Menyanyi di China
Jakarta (ANTARA News) - Lama tak terdengar kabarnya, penyanyi asal Surabaya, Ita Purnamasari, akan tampil dalam pertunjukan seni budaya “Indonesia-China: Intertwined” di Beijing, 15 Juni mendatang.
“Lagu-lagunya mengambil dari lagu daerah yang dibawakan secara `medley` dan diaransemen ulang, di antaranya `Bungong Jeumpa`, `Gundul-gundul Pacul`, dan `Yamko Rambe`,” ujarnya kepada ANTARA, di Jakarta, Sabtu.
Untuk persiapan ke Beijing, pelantun hits “Cintaku Padamu” di tahun 1993 ini mengatakan telah beberapa kali latihan menyanyi dan menjaga stamina agar tetap prima.
“Berlatih menyanyi juga dilakukan secara intensif, terutama karena kali ini aku harus menyanyikan lirik lagu daerah dalam bahasa China,” ungkap ibu dari Muhammad Fernanda Dharmawan (9) ini.
Selain persiapan fisik dan latihan lagu, Ita juga telah menyiapkan kostum khusus untuk menyanyi. Kali ini Ita membuka-buka kembali koleksi busana etniknya.
“Aku punya beberapa koleksi busana bercorak etnik, jadi tidak ada masalah dengan kostum, yang penting menyesuaikan diri dengan tema acara dan lagu yang dibawakan,” ujar Ita, yang pernah tergabung dalam grup vokal “Tiga Dara” bersama Sylvana Herman dan Paramitha Rusady.
Tampil di depan publik China, bagi Ita bukan hal baru lagi. Pada 2006 lalu, Ita bersama sang suami, Dwiki Dharmawan, dan kelompok musik “World Peace Project” menggelar konser di empat kota di China.
“Indonesia-China: Intertwined” adalah bentuk kerjasama Indonesia-China di bidang budaya dan turisme. Pertunjukan tersebut menampilkan pagelaran seni budaya dua bangsa ini dalam tari, musik, lagu, dan peragaan busana. (*)

